Quartel Life Crisis Yang Kecepetan
Banyak masalah, pusing nan penat yang membuat gue memutuskan untuk menuliskan ini secara tiba-tiba. Sebelumnya, pernah denger kata quartel life crisis belom? Se sok tau-an gue, quartel life crisis itu kayak krisis jati diri di usia menuju dewasa alias 20 tahun, sementara gue udah mengalaminya beberapa tahun lebih cepat dan lebih tepatnya kecepetan. Baik atau tidak? I dunno, yang jelas ngga enak bro and sis, asli...
Rasanya tuh, ah mantep pokoknya.
Ibaratkan kayak naik roller coaster dan ga dikasih waktu buat turun dari permainannya, jadi diajak naik turun sampai muntah. Dulu, mengidamkan menjadi seorang wanita dewasa tuh terlihat menyenangkan, sepertinya banyak hal yang bisa dilakukan. Dipikir-pikir iya sih, kayak pembuatan sim, ktp, dan identitas lainnya kebanyakan pada umur 17 tahun-an. Pembukaan rekening bank juga bisa atas nama diri sendiri kalau udah berumur 17-an, enak ya? Tapi, gue ngga sadar kalau proses pendewasaan tuh nyakitin, banget.
Padahal, umur gue yang masih bisa banget buat minta uang orang tua rasanya se canggung itu. Bahkan, cenderung takut dan ragu buat ngelakuinnya, kalau temen-temen gue keliatannya enak banget buat minta kayak beli kacang goreng, sementara gue se-susah itu. maklum, nasib anak keempat yang banyak ngga enaknya.
Dimanja? ngga juga. Dikasih apapun yang di mau? not really. Bebas? hm, lebih banyak ngga nya. Super protektif, definetly yes. Dan part ter-mantep jadi anak keempat sekaligus anak bonus itu adalah jaraknya jauh dari kakak dan orangtua.
Ibaratkan, mereka udah meraskaan panas paitnya dunia, gue masih nyicip. Ironisnya, hidup menjadi orang dewasa yang banyak menuntut untuk menaklukan dunia membuat mereka suka lupa keberadaan gue, eh ngga deng lebay. Ya lebih mudahnya, kehidupan dewasa jelas berbeda dengan kehidupan bocah.
Hal mendasar itu lah yang membuat gue kematengan pada usia dini, kebawa sist. Kakak gue ketiga jaraknya 9 tahun, jauh banget kan? Sementara yang ke 1 dan 2 sekitar belasan tahun. Wajar kan gue udah ngerasain quarter life crisis secara cepat...
Tapi, setelah udah ngerasain, rasanya mau angkat bendera putih.
Kadang, setiap malem suka overthinking kalau belum lakuin hal produktif dan cenderung udah males buat ngelakuin hal remeh temeh yang biasa dilakukan anak se-usia gue. makanya, gue suka ngerasa kayak Ibu-ibu karena terlalu bijak dalam memandang sesuatu.
Awalnya terlihat ga masalah, toh bukannya jadi orang bijak itu baik? Tapi, masalahnya mental gue ngga ke ikutan dengan baik saat proses pendewasaan itu berlangsung alias tangguh di luar tapi rapuh di dalam. Di luar bak sosok peri, tetapi pas udah sampai rumah jadi seorang debu yang untuk berdiri tegak aja sulit.
Asli. ngga tau sebenarnya arah penulisan ini mau kemana, gue cuman ikutin suara hati dan pikiran aja. Karena, kalau terlalu ditumpuk buat sesak dada, nanti dikira covid lagi:( kan pusing wkwk
Gitu deh intinya, cuman gue percaya satu hal.
Proses pendewasaan itu emang menyakitkan, tetapi menciptakan kepribadian yang jauh lebih tangguh untuk masa depan. Karena tidak semua kebahagiaan itu datang sendiri, kadang ada juga yang diciptakan.
Jadi, kalau lagi merasa hal yang sama kayak gue, tenang lo ngga sendiri.
Kita ngga sendiri, di luar sana pasti lebih banyak yang kondisi lebih parah daripada kita. Gue cuman mau bilang, kalau kita tuh keren banget bisa hadapin masalah kompleks yang menyebalkan ini.
But inget, sambil berproses jangan lupa buat ibadah, jaga kesehatan, dan jaga perasaan dan pikiran overthinking ya!!
Komentar
Posting Komentar